Feb201612

Kearifan Budaya Lokal, Warga Kanekes Baduy, dalam 50.000 langkah

Mereka yang melakukan perjalanan hanya dengan langkah kaki, menempuh ratusan kilometer, entah untuk berapa hari lamanya. Akhirnya apa yang saya idamkan atau saya ingin tahu dari dulu, yakni mengunjungi perkampungan Baduy, tercapai sudah.

Badui 2

Panas terik langsung menyambut kedatangan saya bersama rombongan trip kali ini di stasiun Rangkas Bitung, Banten. Awal dari perjalanan kami menuju perkampungan urang Kanekes, atau yang lebih dikenal sebagai warga Baduy. Menempuh perjalanan sekitar 2,5 jam dengan kereta ke Stasiun Rangkas Bitung, sekitar 3 jam perjalanan masih kembali harus kami tempuh dengan menggunakan mobil sewaan ke titik awal perjalanan kami di Cijahe (luar baduy). Disambut ramah oleh warga Baduy Dalam yang memang sudah menunggu kedatangan rombongan, kami bersiap trekking dengan rute masuk Cijahe yakni luar Baduy – Baduy Luar – Baduy dalam. “Paling sekitar 60 menit kita sudah sampai tujuan akhir (perkampungan Baduy Dalam)”, ujar ketua rombongan saat saya bertanya berapa lama perjalanan akan ditempuh. Setelah beristirahat sejenak (sholat, makan siang, dsb), kami mengawali langka-langkah kaki ini dengan riang gembira. Berdoa bersama, briefing tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama perjalanan, selama berada di kawasan Baduy luar atau Baduy dalam, dicermati dengan baik oleh setiap peserta kunjungan wisata yang sekitar 20 orang.

Badui 1

Oh iya karena sejak awal saya sudah tahu akan ditemani oleh warga Baduy Dalam, maka mereka juga menawarkan jasa untuk membawa barang-barang wisatawan yang akan berkunjung. Ini merupakan salah satu cara mereka untuk mendapatkan tambahan penghasilan, 50 ribu untuk perjalanan pulang – pergi. Jumlah yang tidak banyak, apalagi kalau harus dibandingkan dengan sekali jajan di mall dengan mengendong bawaan di rute yang terkadang tidak ramah bagi pengunjung. “Bapak mau bawa tas saya, berapa tarifnya?”, tanya saya kepada Pak Yaldi warga Baduy dalam yang belum kebagian ‘jatah’ membawakan tas pengunjung. Dengan ramah dan tersenyum Pak Yaldi menjawab “Serelanya aja neng, bapak bawa ya tas-nya”. Pak Yaldi tidak lagi muda, guratan dan lipatan sudah tampak di wajahnya, sebagian rambut mulai dihiasi selembar atau 2 lembar yang berwarna putih. Ada juga Darwan, warga baduy dalam yang berusia 5 tahun (kalau saya tidak salah), dengan kulit putih bersih, yang juga membawakan tas salah satu rombongan kami.

Menempuh perjalanan selama kisaran waktu seperti yang sudah diperkirakan sebelumnya, dengan rute yang cukup merepotkan bagi mereka yang baru pertama kali berkunjung, seperti berbatu, berlumpur, melewati jembatan gantung, melewati sungai dengan air yang lagi tidak tinggi, akhirnya kami tiba di kawasan Baduy dalam. Melewati kawasan Baduy luar terlebih dahulu, kami masih bisa menggunakan alat elektronik seperti handphone, kamera. Namun setibanya di perbatasan antara Baduy luar dan Baduy dalam, kami sudah diingatkan untuk mematikan semua alat elektronik yang dimiliki tanpa terkecuali. “Hal itu sudah sesuai dengan tatanan adat yang berlaku, yang selama ini dijunjung oleh masyarakat Baduy dalam”, jawaban yang diberikan saat pertanyaan mengapa terlontar atas hal terkait. Di kawasan Baduy dalam juga tidak boleh menggunakan bahan kimia saat mandi, menggosok gigi, buang air, mencuci baju dan peralatan lain. Sebuah bentuk kearifan lokal tatanan masyarakat yang masih dipertahankan sampai sekarang, dan pendatang atau wisatawan diharapkan menghormati hal itu.

Kang Asmin atau yang sekarang lebih dikenal dengan panggilan Ayah Rayti, pimpinan rombongan dari warga asli Baduy Dalam, dengan ramah menyambut kami. Kesan suram, mistis, kuno, primitif, dsb seperti yang saya pernah dengar tentang Baduy, sama sekali tidak dirasakan. Mereka murah senyum, tidak ada kesan negatif yang ditimbulkan seperi cerita yang beredar di luaran sana. “Katanya sih mistis, katanya sih seram”, yang teman-teman saya bilang saat mereka tahu saya akan menghabiskan waktu sepanjang minggu bersama Baduy dalam. Well, tidak benar sama sekali. Apa yang kita ketahui tentang peradaban warga Baduy dalam atau Baduy luar, harus dilengkapi dengan perjalanan seperti ini terlebih dahulu. Warga Baduy menekankan kearifan budaya lokal, kearifan masyarakat setempat. Bahkan saya tak menghiraukan gurauan rekan-rekan saya yang mengatakan, “bisa tambah primitif donk kalau ke Baduy, ngapain juga capek-capek ke sana cuma buat jadi orang primitif”.

Warga Baduy tidak primitif, mereka juga tidak bodoh, apalagi terbelakang. Warga Baduy mengenal apa yang namanya teknologi seperti smartphone, televisi, pemutar musik, atau bahkan sebagian dari mereka malah tahu perkembangan berita terkini yang beredar di masyarakat. Baduy dalam dan Baduy luar memang berbeda. Warga Baduy dalam mengenakan ikat kepala berwarna putih, dengan baju yang hanya boleh berwarna hitam atau putih. Di perkampungan mereka, tidak boleh ada alat elektronik, tidak ada toilet di dalam rumah, dan rumah yang ditempati juga tidak boleh menggunakan paku atau hanya dari anyam-anyaman akar-akaran atau rumput, dan bahan tradisional lainnya. Kegiatan mencuci baju, mandi, buang air, yang tanpa bahan kimia, dilakukan di sungai yang terletak di sekitar rumah mereka. Mereka tidak mau merusak alam, itu salah satu cara mereka menghargai alam dan apa yang alam telah berikan kepada mereka. Bahkan penerangan yang mereka gunakan hanya dari lampu minyak, dengan minyak yang dibeli dari luar kawasan Baduy Dalam. Mereka juga tidak diijinkan naik mobil, motor, dan segala bentuk perkembangan teknologi lainnya.

“Pak Ralim, kangen gak mau ke Taman Lawang (Jakata) lagi”, tanya salah satu anggota rombongan kepada pak Ralim, yang memang sudah beberapa kali ke Jakarta. Warga Baduy dalam tahu kok Jakarta itu kayak apa, bahkan Pak Sardi (pemilik rumah tempat kami menginap) sudah pernah menjamah kota Bandung. “Bapak cuma mau tahu Bandung kayak apa, jadi bapak sama temen-teman ke Bandung jalan kaki, 5 hari, jauh pokoknya Bandung mah”, saat ditanya selain Jakarta, kota besar apa lagi yang pernah mereka lihat. Mereka mengetahui kok perkembangan teknologi, berita terkini, atau kasus apa yang sedang ramai. Mereka mengakses itu semua saat tidak berada di kawasan Baduy dalam, atau dalam kunjungan mereka ke Jakarta (yang katanya hanya memakan waktu cukup singkat, yakni 4 hari perjalanan pulang – pergi, dengan jalan kaki). Bahkan kang Asmin tahu kok adanya kasus ledakan Bom di Sarinah yang menyebabkan korban jiwa, pembangunan MRT yang digalakkan oleh Gubernur DKI Jakarta, teroris ISIS yang lagi “ngetrend”, dan sederetan berita lainnya.

Masih ada sejumlah hal lainnya yang bisa dipelajari dari warga Baduy, yang memang mengedepankan Tatanan Adat serta asas sama rata. Tidak ada yang pernah merasa lebih kaya dari yang lainnya, lebih pintar dari yang lainnya, lebih berkuasa satu sama lain, semua hanya untuk satu tujuan yakni hidup dalam keselarasan antar sesama warga Baduy. Bukankah itu yang jarang kita terapkan sebagai anggota masyarakat yang selalu mengklaim kita lebih maju dan modern dibanding mereka-mereka yang tinggal di pedalaman tanpa sentuhan dunia luar?. Tertulis di papan, sebelum memasuki kawasan Baduy sejumlah pesan atau disebut dengan “Amanat Buyut”. Diantaranya buyut yang dititipkan kepada puun (pimpinan adat), lembah tak boleh dirusak, gunung tak boleh dihancurkan, larangan tak boleh dilanggar, buyut tak boleh diubah, panjang tak boleh dipotong, yang bukan harus ditiadakan, dan masih banyak lainnya. Apa istimewanya? Luar biasa istimewa, lantaran mereka masih menjunjung tinggi nilai-nilai keseragaman yang diamanatkan. Bukankah kita belajar jauh lebih banyak dari mereka, dibanding mereka belajar dari kita yang mengaku ‘anak kota’? Kalau begitu masih mau mengaku kita lebih maju dari mereka, atau mengklaim mereka masyarakat terbelakang dan primitif?

Berbeda dengan warga Baduy dalam, warga Baduy luar sedikit lebih longgar aturannya namun mereka tetap menjunjung asas tatanan adat dan keselarasan yang sama. Warga Baduy luar sudah boleh menggunakan baju bebas (kaos berwarna-warni, celana panjang, celana pendek), penerangan dengan menggunakan solar cell, lampu portable dengan solar cell (yang merupakan hasil CSR sejumlah perusahaan), serta menaiki kendaraan (tapi kendaraan bermotor tetap tidak boleh memasuki kawasan Baduy luar). Keramahan mang Idong, tuan rumah kami di Baduy luar juga memberi kesan manis. Mang Idong sudah mempunyai toilet dalam rumahnya, pintu rumah juga lebih dari satu, memakai kaos dan celana, dan tampak senang memainkan handphonenya untuk mengambil gambar kami semua yang sedang menikmati makan siang hasil masakan istrinya. Tanpa mengenal batasan mana kaya atau miskin, mana cantik atau jelek, mana lebih pintar atau tidak; wisatawan, warga Baduy luar dan Baduy dalam bersatu dalam irama kebersamaan. Tanpa canggung, tanpa kesan meremehkan, suasana siang itu terasa hangat seperti keluarga.

Pak Yaldi, Kang Asmin, Yuli, Pak Ralim, dan si bocah kecil Darwan bahkan senang saat saya ajak berkelana melihat foto-foto liburan saya di berbagai tempat. Mereka senang diajak bercerita, mereka senang bertanya, mereka senang membagikan pengalaman mereka kepada kami. Darwan kecil bahkan mulai tertawa dan tersenyum sumringah, saat saya tunjukkan bagaimana saya menggunakan telepon pintar. Entah apa yang ada di pikiran Darwan kecil yang misterius, apakah terpesona dengan segala kemajuan yang bisa didapatkan di Baduy luar atau senang menjalani hari-harinya sebagai warga Baduy dalam, dengan segala keistimewaannya. Rombongan tiba di rumah mang Idong setelah berjalan kaki sekitar 3 – 4 jam, melewati sungai, lembah, jalan berbukit, curam, basah, dipenuhi ilalang dan sebagainya.

Badui 3

 

Beristirahat di rumah mang Idong memberi semuanya tambahan tenaga untuk kembali berjalan sekitar 45 menit, dan sampai tiba akhirnya di ujung perjalanan. Pak Yaldi masih setia mendampingi saya, Pak Yaldi yang mengkhawatirkan saya jatuh saat mulai turun hujan besar, dan jalanan menjadi licin. Pak Yaldi yang begitu gembira saat saya memberikannya cokelat favorit, dan Pak Yaldi yang berjanji untuk mengunjungi saya di Jakarta dan akhirnya berkata “neng, jangan lupa sama bapak ya, nanti bapak main ke Jakarta”.  Juli salah satu warga Baduy dalam yang menjadi local guide saat itu malah berkata “mba, catat nomor saya donk, nanti saya main ke Jakarta saya telp ya”. Seperti diceritakan di awal warga Baduy dalam memang diperkenankan menggunakan teknologi saat berada di luar kawasan Baduy dalam. Mereka yang sudah mempersiapkan buku telepon kecil bahkan dengan tidak ragu meminta alamat lengkap kediaman saya di Jakarta, tidak hanya Pak Yaldi tapi begitu juga kang Asmin, Yuli, dan Pak Ralim – yang bahkan sempat bilang bahwa tulisan saya jelek.

50 ribu langkah kaki saya akhir pekan itu memang berat, tapi apalah artinya itu semua apabila ditukar dengan pelajaran banyak tentang apa yang namanya menghargai, berbagi, dan hidup damai seperti yang warga Baduy jalankan. Entah perasaan apa yang membuncah namun saya merasa bahagia, dan bersyukur bahwa masih bisa merasakan kearifan lokal masyarakat Baduy. Menjadi bagian dalam sebuah kebudayaan lokal, yang sungguh tak ternilai harganya. Waktu semalam dihabiskan di kawasan Baduy dalam memang terasa tidak cukup, tapi begitulah aturan yang sudah ditetapkan. Bahwa pengunjung atau pendatang tidak boleh menginap lebih dari satu malam di kawasan Baduy dalam. Tapi saya pastikan akan ada kunjungan untuk yang kedua kalinya. Gurauan saya kepada mereka-mereka saat mereka tanya kapok apa gak main ke Baduy, “nanti pak saya pasti balik lagi, saya ajak anak-anak saya ya kemari”. 50 ribu langkah kaki saya banyak mengajarkan saya nilai-nilai yang gak bisa saya dapat di sekolah formal atau hasil wawancara narasumber terkenal. Langkah-langkah kaki ini tak lagi mengeluh lelah, namun bersyukur.

Badui 4

Leave a Comment