May201413

By: Widhyawati Ambara

Hello Plesirens! Yang bosan nge-mall di kala weekend tapi butuh refreshing kilat menyegarkan sekaligus menyehatkan, saya mau bagi pengalaman menyenangkan mengunjungi lokasi baru ini. Cocok buat ‘anak gunung’ dadakan yang senang dengan petualangan ringan, backpacking sambil sedikit trekking, terlebih lagi tempat tersebut masih banyak yang belum mengetahuinya, sehingga pasti asyik karena penasaran. Kita akan coba dengan perjalanan historis yang membawa kita ke lorong waktu untuk melihat-lihat secara langsung sebuah situs yang diperkirakan dibangun SM (ya, Sebelum Masehi) itu, dan diklaim terbesar dan tertua se-Asia Tenggara.

Happy Plesiran!

Pendahuluannya..

Situs Gunung Padang merupakan situs prasejarah peninggalan kebudayaan Megalitikum di Kabupaten Cianjur. Luas kompleks “bangunan” (dibawah gundukan bukit, dan dari bentuk undakan terdiri dari lima teras) kurang lebih 900 m².Areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Bangunan di bawah permukaan situs Gunung Padang terbukti secara ilmiah lebih tua dari Piramida Giza! Bandingkan dengan piramida Giza di Mesir, yang hanya 2.500 SM.

Untitled                               

Gambar: denah kelima teras situs

Laporan pertama mengenai keberadaan situs ini dimuat pada Rapporten van de Oudheidkundige Dienst (ROD, “Buletin Dinas Kepurbakalaan”) tahun 1914. Sejarawan Belanda, N. J. Krom juga telah menyinggungnya pada tahun 1949. Setelah sempat “terlupakan”, pada tahun 1979 tiga penduduk setempat melaporkan mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak. Selanjutnya, kajian arkeologi, sejarah, dan geologi terus dilakukan sejak tahun 1979 hingga saat ini, baik nasional maupun internasional, semakin meyakinkan bahwa Gunung Padang sebuah bukit yang dibuat atau dibentuk oleh manusia (man-made) masa lampau yang pernah hidup di wilayah itu.

Jika dilihat dari atas, Gunung Padang terlihat sangat persis bentuknya dengan piramida yang ada di Mesir. Karena sesungguhnya Gunung Padang bukanlah gunung melainkan bangunan berbentuk mirip piramida yang telah terkena timbunan debu vulkanik sehingga terlihat seperti gunung yang sudah ditumbuhi pepohonan. Didalam gunung padang dipercaya memiliki ruang didalamnya yang kini telah tertimbun tanah. Dalam situs gunung padang juga ditemukan alat musik yang berupa batu persegi panjang yang bergelombang pada bagian atasnya, jika setiap gelombang dipukul, maka akan mengeluarkan bunyi yang berbeda antar gelombang satu dengan yang lain. Juga adanya tanda-tanda berbentuk gambar atau cekungan buatan manusia pada setiap batu yang berada di teras.

Photo: Bagian ujung bukit ini adalah situs megalitikum Gunung Padang

2

3 4

Yuk berangkat!

Well, walau penelitian masih berlanjut dan masih perlu pembuktian final, situs Gunung Padang tetaplah mencengangkan. Mari kita kemon!

Kereta: Warga Jakarta yang ingin melongok Gunung Padang bisa naik kereta komuter menuju Bogor. Lalu menyambung dengan KA Pangrango, dan berganti KA Siliwangi dari Stasiun Sukabumi. Berhenti di Stasiun Lampegan, lalu naik ojek ke Gunung Padang.

Bus/kendaraan pribadi: Walau moda Kereta Api paling nyaman, namun mengingat jadual keberangkatan kereta plus transit time diantara stasiun berikutnya kurang bersahabat untuk yang ingin day-trip, menggunakan bus atau kendaraan pribadi adalah alternatif paling efisien dan efektif! Kita bisa naik bus jam 7 pagi jurusan Kp. Rambutan – Cianjur dengan waktu tempuh 3-4 jam, turun di pertigaan sebelum terminal yang dinamakan “Warung Kondang”. Dari Warung Kondang, banyak angkot carteran yang menawarkan jasa pulang pergi sambil menunggu di Gunung Padang (waktu tempuh kira-kira 2 jam). Angkot carteran sekitar Rp250ribuan, hasil tawar-menawar tarik urat ala belanja di Mangga Dua. Oleh sebab itu, the more the ‘irit’er (jalan bareng 4-5 orang lumayan bisa ngirit).

Bila dari arah Jakarta, berangkatlah sebelum jam 7 pagi agar terhindar dari macet di Puncak. Juga agar ketika kembali turun dari situs Gunung Padang tidak terlalu sore.

Sampai di situs GUNUNG PADANG !

Anda telah sampai di pintu gerbang Gunung Padang bila telah melihat gapura tinggi dengan ornament dan design seperti film kartun Flinstone.

5

Dari area parkir menuju bagian paling bawah situs kira-kira hampir 1km, dengan jalan aspal yang sudah rapih, tapiiii menanjak cukup terjal. Bagi yang jarang olah raga, bakal lumayan bikin nafas memburu, dan betis terasa seperti dipijat sendiri, alias senut-senut. Tapi kesegaran menghirup udara gunung bakal mengatasi kelelahan.

Setelah itu sampailah kita di titik awal ‘penanjakan’. Nah ada dua jalur yang bisa dipilih. Jalur pertama 300an anak tangga terjal dan tinggi, yang kedua 700an anak tangga dengan kontur landai. Jangan terkecoh mau yang gampang duluan ;) Saran saya, naiklah yang 300 anak tangga itu dulu, saat tenaga masih ada cadangannya. Setelah menjelang sore kembali dari situs, turun melalui 700 anak tangga yang landai, dengan batu-an yang lebih lebar. Terlebih kalau sore hari kebagian habis hujan, seperti pengalaman saya baru-baru ini, tidak terbayang kalau harus menuruni batu-batu gunung yang licin dan terjal itu.. waduh!

6

Photo: bagian dari 300 anak tangga menuju Teras 1 situs megalitikum (sekarang sudah disedikan pegangan besi untuk lebih menjaga keamanan pengunjung sebab undakan yang tinggi dan terjal)

Inilah yang Anda akan temukan setelah berjuang melewati anak tangga terjal. Teras pertama. Situs ini memiliki 5 teras. Teras pertama adalah konon tempat peribadatan, yang kiblatnya menghadap ke Gunung Gede. Pada setiap teras atau undakan, berserakan batu-batu menhir yang merupakan batuan vulkanik. Batu-batu itu seiring berjalan dengan waktu dan juga oleh kikisan alam pada lapisan tanah atas, mulai bermunculan dari dalam tanah. Dari fenomena itulah kemudian dilakukan penelitian oleh team arkeologi kita dan juga dari internasional.

Boleh juga menerima tawaran bapak-bapak guide yang bersedia sejak dari awal penanjakan, karena mereka bagian dari masyarakt pemelihara situs purbakala. Dari mereka nanti akan keluar kisah-kisah folklore yang melatarbelakangi situs itu. Akan menyenangkan mendengar kisah-kisah peradaban manusia Indonesia purbakala :)

7

Photo: Teras 1 – Disebut teras penyambutan. Dengan gundukan menhir (konon disini tempat ibadah), dan di sebelahnya ruangan kotak yang dikelilingi susunan batu menhir

8

Photo: Teras 2, dengan gundukan menhir paling banyak

9 10

Photo: Teras 4

11

Photo: Teras 5 – Konon tempat istirahat/pembaringan raja

Mampir ke Stasiun Kereta Api tua LAMPEGAN

Sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Demikian pula day-trip saya kali ini.

Satu yang layak untuk tidak dilewatkan adalah stasiun kereta tua LAMPEGAN. Terletak di pertigaan menuju situs Gunung Padang, karena itu, mampirlah dulu sebentar. Keunikan stasiun itu adalah usianya yang sudah tua, dibangun oleh pemerintah Belanda tahun 1879, kemudian direnovasi tahun 2010 dan dioperasikan kembali, untuk melayani route Sukabumi-Cianjur. Selain itu memiliki terowongan lama sepanjang kira-kria 650m.

Dengan posisi dibawah perbukitan, berfoto di stasiun Lampegan bakalmenghasilkan gambar yang menarik. Walau sinar matahari lumayan hangat, di dalam terowongan terasa sejuk.

 12 13

14

* Catatan: keterangan dan gambar pada bagian Pendahuluan diadaptasi sebagian dari wikipedia. Selebihnya adalah catatan dan photo pribadi.

Leave a Comment