Nov201313

 

Sudah lama saya ingin berkunjung ke Turki, suatu negeri yang unik sekali karena letaknya yang berada di ujung benua Asia dan Eropa.  Akhirnya, pada bulan September 2012, keinginan saya untuk menjelajahi Negeri Kemal Attaturk ini terkabulkan. Tentunya, perjalanan menuju Turki cukup panjang, sekitar 11 jam dengan transit selama 8 jam di Dubai. Demi menghemat dana sekalian menjaga tas kabin supaya tidak overweight, saya menahan diri dan tidak membeli kenang-kenangan apapun selama transit di Dubai! Meskipun perjalanan sudah cukup jauh dari Jakarta ke Istanbul, ternyata kami masih harus menempuh satu penerbangan domestik lagi sebelum tiba di tujuan pertama kami, yaitu Cappadocia.

Cappadocia

Cappodacia terkenal oleh karena landscape-nya yang sangat unik, terbentuk dari abu vulkanik akibat letusan gunung berapi beribu-ribu tahun yang lalu. Konon sedimen dari letusan tersebut mencapai ketebalan sampai 100m, yang setelah mengalami proses alam selama ribuan tahun, terbentuk menjadi pilar-pilar batu dengan berbagai bentuk seperti jamur, ular, unta, dan hewan lainnya. Selain itu, penduduk di sana juga membangun rumah-rumah kecil dari abu vulkanik yang tersisa dari letusan gunung berapi tersebut. Keindahan alam ini kami nikmati di Dervent Valley dan Valley of the Birds pada hari pertama kami di Cappadocia.  Sayangnya, kedua tempat tersebut hanya kami kunjungi sekitar lima menit hanya untuk berfoto ria.

Cap1 Cap2

Setelah Valley of the Birds, kami melangkah lagi ke Goreme Open Air Museum, yaitu suatu daerah museum terbuka yang merupakan kompleks gereja-gereja gua abad pertengahan. Di dalam gereja-gereja ini terdapat berbagai ukiran dinding yang menakjubkan, hasil karya biarawan Ortodoks yang dulu bertempat tinggal di sini. Terdapat pula biara-biara terpisah untuk para bruder dan para suster. Biara tersebut bertingkat-tingkat dan setiap tingkat dipergunakan untuk aktivitas yang berbeda-beda: ada ruang doa, ruang makan, ruang dapur, dan ruang tidur.

 

Gereja-gereja gua yang dikenal dengan istilah cave churches ini bisa digunakan oleh empat atau lima orang kaum Nasrani untuk bersekutu. Salah satu contohnya adalah Dark Church (Gereja Gelap), yang medapatkan julukan tersebut karena begitu sedikit cahaya yang menerangi gereja tersebut. Gereja ini dihias dengan lukisan-lukisan dinding dari abad ke-11 yang menggambarkan kisah perjalanan Yesus Kristus bersama muridnya seperti tertulis di Kitab Perjanjian Baru. Sayang sekali, gereja ini sempat digunakan sebagai rumah merpati hingga sekitar tahun 1950-an, sehingga dibutuhkan sekitar 14 tahun untuk membersihkan kotoran merpati dari dinding tersebut. Untungnya, sampai dengan sekarang, lukisan-lukisan tersebut masih terpelihara dengan baik. Sayang, kami tidak diperkenankan untuk mengambil foto karena tempat ini dianggap sakral. Tapi bagi teman-teman yang ingin mendapat informasi lebih detail, bisa dilihat di http://www.sacred-destinations.com/turkey/cappadocia-goreme-cave-churches ). Cap3 cap4 Cap5 Cap6

 

Naik, naik, ke puncak langit..

Meski banyak kenangan indah dari perjalanan kami di Turki, salah satu kenangan yang sangat berkesan adalah petualangan kami naik balon udara di Cappadocia. Balon udara ini menggunakan kompor yang memanaskan udara dalam balon dengan bahan bakar propane.  Satu balon udara dapat menampung 20 orang dalam keranjangnya. Melayang-layang di udara sambil menyaksikan matahari terbit dari balik awan-awan, kami bagaikan memenuhi impian masa kecil untuk dapat “terbang”  seperti super-hero. Dari ketinggian balon udara, kami juga dapat menikmati sisi lain dari landscape Cappadocia yang dihiasi oleh pilar-pilar batu yang unik dan menawan. Cap7 Cap8 Cap9Cap11 Cap11 Cap12

 

Kaymakli, kota bawah tanah

Setelah selesai menaiki balon udara, perjalanan kami dilanjutkan menuju Kaymakli Underground City, yaitu kota di bawah tanah yang dibangun oleh orang-orang Kristiani untuk bersembunyi dari kejaran tentara Romawi. Orang-orang Kristen juga membangun gereja-gereja yang masih bisa ditemukan di dinding-dinding batu. Bangunan-bangunan seperti rumah batu, kuil batu, dan cerobong asap batu cukup mudah ditemukan di kawasan Cappadocia ini. Cap13 Cap14 Cap15 Cap16 Cap17 Cap18

 

Tentunya, perjalanan ke manapun belum lengkap tanpa “shopping” tour! Karena itu, kami menyempatkan diri untuk mengunjungi pabrik pembuatan karpet Turki. Di sini ditemukan  kerajinan tangan wanita berupa karpet-karpet yang diolah dan ditenun dari bahan sutra asli, maupun kerajinan tangan pria berupa keramik. Para wanita dibiayai oleh pemerintah Turki agar mereka mempunyai keterampilan dan penghasilan tetap. Beberapa teman saya yang sudah “gatal” ingin berbelanja akhirnya berhasil membeli beberapa cindera mata.

Setelah puas jalan-jalan di Cappadocia, kami melanjutkan petualangan kami ke Ankara dan Istanbul. Nantikan bulan depan cerita saya berikutnya di Plesiran di Turki Part 2! (SannyTj)


Leave a Comment