Mendaki Gunung Papandayan adalah pengalaman pertama saya. Sebelumnya saya kurang tertarik dengan ketinggian dan keindahan gunung, tetapi hampir setiap bulan saya mendapat cerita dari beberapa teman dekat saya tentang keindahan negeri diatas awan.

Foto – foto yang mereka shared, cerita-cerita tentang rumit dan nikmatnya mendaki akhirnya membuat saya penasaran dan sayapun mantap untuk mencoba mendaki. Banyak informasi dari beberapa teman – teman pendaki, yang mengatakan kalau Gunung Papandayan adalah gunung untuk para pemula.

Akhirnya, saya dan teman-teman pun memutuskan untuk pergi mendaki ke Gunung Papandayan – Garut, Jawa Barat. Saat itu saya sama sekali tidak mempunyai peralatan untuk mendaki. Satu per satu perlengkapan saya beli. Mulai dari tenda, jaket, sepatu, head lamp, dan item – item kecil yang bisa membuat saya nyaman di atas gunung nanti.

Kami pun berangkat di hari Jumat malam. Meeting point, kami adakan di terminal kampung rambutan. Saat itu kami ber-9. Menunggu bus ke arah garut sangat lama, dan waktu berangkat kami pun akhirnya mundur 3 jam dari waktu yang kami prediksikan.

Dalam perjalanan menuju Garut kami pun tertidur sembari mengumpulkan tenaga untuk mendaki. Menjelang subuh sekitar pukul 03.00 WIB kami tiba di terminal Garut. Kami istirahat dulu sambil makan makanan kecil dan ngopi di terminal. Masih ada 2 kali angkutan lagi untuk menuju ke camp David (Post Gunung Papandayan) kaki Gunung Papandayan.

DSC_0001

Sudah siap semua fisik dan perlengkapan, kami pun menyewa angkot untuk mengatar kami ke tempat penyewaan truck untuk naik ke Camp David. 9 orang muat di dalam angkot, barang – barang kami diikat dengan rapi diatas angkot. Sepertinya sopir angkot ini sudah pengalaman sekali dalam menata barang – barang para pendaki yang ingin ke camp David.

Tibalah kami di tempat penyewaan truck untuk naik ke camp David. 2 orang teman saya duduk didepan bersama supir truck, sisanya duduk semua dibelakang truck. Sungguh pengalaman yang sangat menyenangkan. Dinginnya udara sangat kami nikmati. Luar biasa pemandangan menuju camp David. Sayangnya kami mendapat truck yang kurang sehat, sehingga dipertengahan jalan truck kami mogok.. Hahahha.. Semua penumpang yang laki – laki turun untuk mendorong truck kami. Bisa dibayangkan dalam keadaan nanjak mereka mendorong keatas truck tersebut, dan untungnya bisa hidup kembali. Belum beberapa menit truck itu kembali mogok, wahh kasian teman – teman kami yang laki – laki. Ini mogok terakhir dan langsung membawa kami ke camp David.

0eda0b511396d226c509c89cfb861207_1441957591201

DSC_0010

Saat kami sampai di Camp David, kami melakukan pendaftaran. Semua mengumpulkan foto kopi KTP yang akan dititipkan di post pendaftaran Gunung Papandayan. Setelah selesai melakukan pendaftaran kami menata kembali perlengkapan kami dan logistik2 yang ada. Dan kami pun siap untuk mendaki. Sebelum mendaki dimulai, tak lupa kami berdoa untuk kelancaran perjalanan kami mendaki Gunung Papandayan agar diberi kekuatan, kesehatan dan semangat untuk menuju puncak.

DSC_0013

Wow.. ternyata mendaki itu sulit, mendaki itu tidak semudah yang dipikirkan. Haus, nafas yang sulit dikontrol, emosi yang berlebihan, capek yang berlebihan, dan belum lagi beban carrier yang ada di pundak kita. Tetapi untungnya saya mendaki Gunung dengan teman-teman yang sudah berpengalaman. Mereka sangat pengertian, dan memberi support supaya saya tetap semangat untuk sampai puncak Gunung Papandayan.

DSC_0027 DSC_0037 DSC_0053 DSC_0096

Akhirnya setelah melewati beberapa kali post pemberentian, setelah 3 jam kami mendaki, kami pun sampai di Pondok Saladah, dimana Pondok Saladah adalah tempat untuk berkemah. Hhuft.. finally, bisa istirahat dan menikmati indahnya pemandangan dari Pondok Saladah.

DSC_0140 DSC_0150

Kami bersama-sama membuka tenda-tenda kami, dan beberapa dari kami pun mencari air untuk persiapan kami memasak untuk makan siang kami dan makan malam kami. Suara angin begitu terdengar di telinga, seakan-akan mereka bersaut-sautan dengan daun-daunan. Sungguh refresing yang menyenangkan.

Malam pun tiba, makan malam pun sudah beres. Salah satu dari kami memang jago memasak. Mulai dari spaghetti, sop ayam sampai semur jengkol pun ada di tenda kami. Hahahaha, kemping yang menyenangkan. Dingin sekali malam itu.. sampai-sampai kami melakukan kegiatan loncat-loncat, lari-lari, bahkan mencoba mencari kesibukan agar kami tetap bergerak.

DSC_0159

DSC_0161

DSC_0166

Memang betul sekali kata beberapa pendaki, lebih baik keberatan peralatan yang dibawa di carrier agar nyaman diatas, dari pada mendaki dengan perlengkapan minim sehingga bisa membuat kita tidak nyaman atau juga bisa menyebabkan hipo karena kedinginan.
Api unggun dan cemilan sosis bakar akhirnya menemani kami sampai malam sudah terlalu larut. Kami pun masuk ke tenda kami masing-masing dan memasang alarm untuk bangun pagi melihat sunrise. Rencana tinggal rencana, alarm bunyi dan tidak ada satupun dari kami yang berani keluar tenda. Udara pagi itu sangat dingin sekali sampai menusuk tulang.

DSC_0169

Pondok Saladah bukan puncak dari Gunung Papandayan. Masih ada 2 puncak lagi yaitu hutan mati dan tegal alun. Karna kondisi saya flu berat saat itu, maka saya putuskan untuk jaga tenda saja, sedangkan beberapa teman sudah melakukan perjalanannya ke hutan mati.

Sesudah mereka turun dari hutan mati, kami siap – siap untuk bongkar tenda dan kembali ke Jakarta.

Well, liburan kali ini sangat bermanfaat bagi saya sebagai pemula dalam dunia pendakian. Ada beberapa pelajaran yang saya dapat dari kegiatan mendaki ini. Hidup sederhana, lebih lagi menghargai sesama manusia, alam dan hewan, tidak sombong dan selalu bersyukur kepada Tuhan. Setiap pribadi akan terlihat watak, sifat dan adatnya pada saat kita semua berada di atas gunung.
Semoga pengalaman yang saya bagikan ini dapat bermanfaat bagi teman-teman ya 

DSC_0240

SALAM LESTARI!