Sejak dini, benih-benih “curiosity” tentang Papua sudah tertanam di dalam benak saya.
Seringkali, ditengah membaca majalah National Geographic, pandangan saya terpaku pada sebuah foto orang Papua yang membangkitkan pertanyaan…. “Seperti apa ya kehidupan teman-teman kita di bagian timur negara ini?”. Akhirnya pada bulan November tahun lalu, saya bersama suami saya, Tom, mendapatkan kesempatan berjalan kaki melalui daerah dataran tinggi di Kabupaten Intan Jaya, daerah suku Moni, yang terletak di bagian tengah pulau Papua.

Kesempatan ini hanya dimungkinkan karena bantuan Pendeta John Cutts, seorang Misionaris asal Amerika yang mengikuti jejak orang tuanya untuk tinggal di Papua, khususnya di daerah suku Moni dan melayani kebutuhan masyarakat setempat. Beliau yang bekerja sama dengan para Kepala Kelassis dari setiap desa yang kami singgahi supaya dapat menerima kami dengan baik.

IMG_2737 IMG_2558

Perjalanan diantara awan-awan…
Perjalanan kami dimulai dengan pesawat dari Jakarta ke Timika, kota yang dibangun oleh PT. Freeport Indonesia. Setelah bermalam di Timika, keesokan harinya kami menuju desa Bugalaga menggunakan pesawat Cessna Caravan 208-B yang berkapasitas maksimum delapan orang. Pemandangan dari pesawat kecil ini sungguh menakjubkan… di kiri-kanan pesawat terdapat awan-awan yang cukup tebal. Lalu, tiba-tiba dari balik awan terlihat puncak pegunungan yang begitu megah ditutupi bercak-bercak es dan dikelilingi oleh kabut. Saya seakan-akan berada di film Indiana Jones!

Setelah menikmati pemandangan dari pesawat yang begitu mengesankan selama setengah jam, disela-sela awan saya melihat landing strip desa Bugalaga. Landing strip ini dibangun di sisi bukit sehingga terletak pada kemiringan kurang lebih 45 derajat. Selain unik, hal ini sempat membuat hati saya deg-degan saat pesawat sedang touch down dengan posisi ekor mengarah kebawah dan kepala mengarah keatas.

Untungnya ada porter
Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh warga Bugalaga. Anak-anak membentuk lingkaran di sekitar kami, sambil para tetua menghampiri kami untuk berjabat tangan. Selesai dengan ramah-tamah, saya dan Tom segera mencari ketiga porter yang dipesan Pendeta Cutts untuk mengangkut bawaan kami yang terdiri dari dua backpack dengan berat 15 kg dan 23 kg, beras 15kg, dan supermi 10 kg. Tanpa adanya porter, saya tidak mungkin dapat menyelesaikan perjalanan kaki selama empat hari dari Bugalaga menuju Pagamba.

IMG_0283

“Naik…. turun…. naik… turun…. na…ik…. tu…run”
Dari desa Bugalaga, rombongan kami berjalan kaki selama kurang lebih enam jam menuju desa Pagamba. Perjalanan hari pertama merupakan perjalanan yang paling sulit. Dimulai dengan jalan menurun yang terjal di sisi bukit, kami menuju lembah sungai, menyeberangi sungai dan menaiki lembah sungai menuju bukit berikutnya. Setelah melakukannya tiga kali, rasa lelah sudah mulai merajai badan saya… jarak yang biasa dapat saya tempuh dalam waktu pendek memakan waktu berjam-jam karena ketinggian yang sangat bervariasi. Keadaan fisik saya sunggguh berbeda dengan para porter. Meskipun membawa backpack yang berat, mereka sudah jalan mendahului ke atas bukit dan bahkan sempat beristirahat di bawah pohon yang teduh sambil menunggu saya dan Tom yang ngos-ngosan mencapai puncak. Bagi mereka, perjalanan naik-turun sisi gunung seperti ini sudah biasa. Rasa lelah saya pun dikalahkan dengan rasa malu terhadap para porter…

IMG_2504

“Romantic dinner” di dalam honai
Pada malam hari, kami makan bersama di dalam honai, bangunan bundar terbuat dari kayu dan beratap kulit kayu. Warga satu desa duduk membentuk lingkaran di sekitar perapian di tengah honai sambil menunggu masakan matang. Karena listrik belum masuk di Bugalaga dan desa-desa kecil lainnya, satu-satunya sumber cahaya di malam hari adalah senter atau api. Alhasil, saya merasa seperti sedang makan malam romantis dengan Tom, dengan cahaya perapian yang halus, melihat sinar bulan dari pintu honai…sayangnya, makanannya Supermi…

Setelah menikmati makan malam, kami dengan senang menyambut sleeping bag yang telah kami gelar di lantai kayu kamar tamu. Hari pertama perjalanan kami cukup melelahkan..

Negeri di awang-awang
Perjalanan pada hari kedua tidak begitu terasa, mungkin karena kaki kami sudah mulai terbiasa dengan naik-turun jalanan setempat. Cantiknya pemandangan yang selalu berganti turut membantu menghilangkan rasa lelah. Di suatu saat kami melewati jalan setapak di tengah hutan yang diapit oleh pohon-pohon Cemara dan semak-semak merah. Di saat lain awan-awan menutupi lembah dan Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik bukit. Sinar mentari yang terpantul dari awan menjadi seperti lukisan indah. Sungguh mengesankan Papua ini… bagaikan negeri di atas awan.

Bakar Batu… “Roast”-nya orang Papua
Sewaktu kami mengunjungi Kabupaten Intan Jaya, warga setempat sedang dilanda musim kelaparan karena musim hujan yang tak henti selama lima bulan. Umbi-umbian yang menjadi makanan pokok mereka sehari-hari habis akibat hujan. Harga umbi kecil sempat naik tiga kali lipat. Walaupun demikian, tuan rumah kami di Desa Mbugulog, Bapak Kelassis Jan Tipagalo dan istrinya, Mama Jemima, tetap mengadakan acara “Bakar Batu” bagi kami. Kemurahan hati warga setempat benar-benar tidak mengenal batas. Mereka menyembelih satu dari tiga babi yang mereka miliki untuk dipanggang di dalam “oven” bawah tanah yang alami. Oven ini terbuat dari lubang yang digali di dalam tanah lalu diisi dengan kayu dan dedaunan yang dibakar dan ditimbun dengan bebatuan diatasnya hingga panas. Di atas batu-batu panas diletakkan daging serta sayur-sayuran, lalu ditimbun lagi dengan tanah dan bebatuan supaya temperatur di dalam semakin panas. Efeknya… “oven alami”. Daging yang dimasak mirip dengan “Roast Pork” yang biasa dihidangkan oleh tuan rumah di Australia.

IMG_2679

Kerja keras tanpa kenal lelah
Satu hal yang mengejutkan kami adalah stamina orang Papua. Tenaga mereka boleh dibilang beberapa kali lipat dari tenaga body builder. Dari anak muda hingga orang tua bahkan yang sudah lanjut usia, mereka betul-betul bekerja keras menguras keringat. Di pagi hari sebelum Matahari terbit mereka sudah bangun bersiap-siap untuk sekolah, mengurus kebun, pergi berburu atau mengurus gereja.
Selesai sekolah anak-anak kecil langsung dikirim masuk ke hutan mencari kayu bakar. Saat tampungan air hujan desa habis, anak-anak cilik berusia tidak lebih dari tujuh tahun berjalan ke mata air terdekat dan kembali menggotong jerry can yang diisi penuh dengan air kembali ke desa. Berapa jauh? “Dekat, hanya satu kilometer saja…” jawab orang tuanya.
Tidak jarang saya berpapasan dengan bapak-bapak tua yang sedang menggotong kayu Cemara di atas bahu sendiri untuk membangun rumah atau pagar kebun. Dengan beban seperti itu mereka melompat dengan lihai dari batu ke batu sementara saya yang tidak membawa apapun harus berhati-hati mengambil setiap langkah.
Dari semuanya, yang paling mengesankan adalah kaum wanita. Dengan menggunakan kantung noken yang digantung pada dahi, mereka bisa menggendong bayi, umbi-umbian, nasi dan kayu bakar sampai lebih dari 20 Kg. Seringkali dalam perjalanan mereka diminta mengangkut beban yang lebih berat daripada kaum pria untuk bayaran lebih sedikit.

Keramahan dari lubuk hati, ketabahan melewati hidup
Kesan yang paling menempel dari perkenalan singkat saya di Kabupaten Intan Jaya, adalah kemurahan hati warga setempat ditengah hidup mereka yang begitu sulit. Meskipun dilanda kelaparan karena hujan yang tak kunjung henti, kesedihan melihat anak dan orang tua mereka yang sakit tanpa adanya obat untuk menyembuhkan, keletihan dari kerja keras setiap hari, tetap saja mereka meluangkan waktu untuk menyambut kami ke dalam rumah mereka. Perjalanan pendek saya bersama orang-orang Moni di Intan Jaya akan selalu terkenang.

Bahan:
1 ekor ikan gurame/kakap (+/- 6 – 7 ons)
3 siung bawang merah, iris kasar
1 siung bawang putih, iris halus
2 batang daun bawang, potong uk. 2 cm
1 ruas jahe, iris tipis
2 buah cabai besar, iris tipis
1 sendok teh tauco medan
1 sendok teh sagu (cairkan)
¼ sendok teh cuka dixi
1 sendok makan gula pasir
Kecap asin dan garam secukupnya
1 sendok makan minyak wijen
1 sendok makan minyak zaitun/sayur (untuk menumis bumbu)
200-250 ml air putih

Ikan Asam Medan

Cara membuat:
- Bersihkan ikan (jika menggunakan ikan kakap potong ikan menjadi beberapa bagian), setelah bersih lumuri garam dan kecap asin secukupnya
- Berikan sebagian irisan jahe di atas ikan
- Tim/kukus ikan sampai matang (+/- 20 menit) dengan api sedang
- Siapkan wajan untuk menumis bumbu-bumbu: bawang merah dan bawang putih ditumis sampai harum
- Masukkan tauco, aduk rata
- Tuangkan 250 ml air putih, aduk rata dengan bumbu
- Setelah air mendidih, masukkan jahe dan daun bawang, aduk rata
- Tuangkan air sagu ke dalam wajan yang berisi tumisan bumbu sambil diaduk agar tidak menggumpal
- Setelah kuah agak mengental dan matang, tuangkan kuah asem ke piring ikan yang di tim dan matang.
- Sajikan dalam keadaan hangat

Sumber : Sanny Tjandradjaja

Membaca adalah perilaku positif. Perilaku yang harus diawali dengan “pembiasaan” (conditioning) sebelum akhirnya mendarah daging dalam keseharian kita. Ketika aktivitas membaca sudah menjadi kebiasaan, maka aktivitas membaca pun terus kita lakukan tanpa harus dipaksa.

Banyak dari kita mungkin merasa enggan untuk membuka lembaran demi lembaran buku. Entah karena apa, kita sepertinya tidak memiliki semangat untuk melahap bahan-bahan bacaan. Kerap kali kita membaca hanya sekilas lalu, alias tak merampungkan bacaan sampai selesai.

Girl reading book

Apakah membaca harus berupa buku? Membaca tidak harus berupa buku. Banyak bahan bacaan yang bisa kita baca, misalnya surat kabar. Membaca surat kabar juga penting bagi kita karena kita bisa terus mengikuti perkembangan-perkembangan aktual, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri.

Banyak orang pintar dan cerdas disebabkan dari rajin membaca. Membaca juga bisa membuat orang lebih dewasa. Dewasa di sini artinya memiliki pola pikir yang tidak lagi kekanak-kanakan. Dengan membaca, orang bisa memandang setiap permasalahan hidup bukan sebagai beban, namun tantangan yang harus diselesaikan. Permasalahan dalam kehidupan tidak dipandang hanya dari satu sisi, tetapi dari berbagai sisi. Orang yang memandang permasalahan hidup dari berbagai sisi biasanya lebih bijaksana dan arif dalam menjalani kehidupan.

Membaca membantu mengembangkan pemikiran dan menjernihkan cara berpikir.
Membaca meningkatkan pengetahuan seseorang dan meningkatkan memori dan pemahaman.

Dan dengan sering membaca, orang mengembangkan kemampuannya; baik untuk mendapat dan memproses ilmu pengetahuan maupun untuk mempelajari berbagai disiplin ilmu dan aplikasinya dalam hidup.