Apr201528

Selasa kemarin saya melewati rute baru, menggunting pulau jawa tepat di tengahnya, dari utara ke selatan. Diawali dari rumah saya di Kabupaten Batang ke Pekalongan, lalu belok ke selatan di daerah Wirodeso ke arah Kajen, ibukota kabupaten Pekalongan. Dari sana bergerak ke selatan ke arah kecamatan Kandang Serang. Ternyata, daerahnya sangat subur, hijau, lebat ditumbuhi pepohonan, baik kayu keras maupun lunak. Sungainya berbatu dan cenderung jernih meskipun musim hujan karena minimnya pasir.

Dari sana, bergerak lagi mendaki ke arah selatan, ke Kecamatan Paninggaran, dan sampai di pasar, belok kanan sejauh 15-an km, meninjau lokasi calon bendungan. Sepanjang daerah Kandang Serang – Paninggaran, didominasi tanaman keras berupa pinus. Tanaman ini tumbuh di lahan perhutani dan disadap getahnya oleh masyarakat untuk dijadikan bahan baku industri. Diameter batang pinus sudah cukup besar, bahkan ada yang di kisaran 30-40 cm. Di bantaran sungai, pemandangannya sangat indah. Sawah trap-trapan terasering bertumpuk2 dengan sangat indahnya, mungkin mencapai lima puluh trap lebih.

Nur wahid

Selesai dari sini, perjalanan diteruskan mendaki ke selatan, ke arah Kalibening. Perjalanan tidak mudah. Selama ini yang saya tahu Pacitan itu sudah sulit medannya, ternyata rute Paninggaran – Kalibening – Banjarnegara ini tingkat kesulitannya sama, tetapi jauh lebih panjang, mungkin sekitar 6 kali jaraknya. Sedari Kajen, jalan berkelok, menanjak, menurun, sempit, dan beberapa rusak. Terkadang berpapasan dengan pengguna jalan lain sehingga harus berbagi hingga turun ke berem tanah.

Lepas dari pertigaan Kalibening, bila lurus ke arah pegunungan Dieng yang tembus Wonosobo, kami justru berbelok ke kanan karena mengambil rute jalur pintas. Ternyata perjalanan lebih berat karena sangat curam, sempit, jalan rusak. Tetapi pemandangan sangat indah. Sayangnya hari sudah mulai gelap karena sudah lewat jam 18. Di kanan kiri terdapat kebun teh, serta terhampar pula kebun salak milik masyarakat. Pemandangan indah pegunungan Dieng hanya sempat terlihat sesaat saja karena hari gelap dan berkabut tebal. Sayang sekali.

Sampai di Banjarnegara, jam sudah menunjukkan 19 lewat. Sejam berikutnya perjalanan diteruskan kembali ke Semarang, melalui rute Wonosobo, Temanggung, Ambarawa, Ungaran. Tanjakan curam Wonosobo hingga turunannya ke Temanggung masih saya saksikan di keremangan malam, sambil menemani Mas Diky yang mengemudikan Innova. Lepas dari kota Temanggung, mata sudah tidak kuat melek setelah malam sebelumnya tidak bisa tidur karena takut tertinggal pesawat jam 5.40 pagi, sehingga terpaksa begadang. Jam 23.30 perjalanan berakhir di Ungaran, dengan kepenatan yang luar biasa tentunya.

Terima kasih sudah membaca.

Sumber : Nur Wahid

Feb201518

Melancong ke Amerika, Canada dan Hongkong
Akhirnya tibalah hari yang di-nanti dan sudah direncanakan lebih dari satu tahun yang lalu. Ya, melakukan petualangan kembali. Kali ini negara yang dikunjungi adalah Amerika, Canada dan Hong Kong.

Pada 10 hari pertama, negara yang saya kunjungi adalah Amerika bagian Barat (west coast), negara bagian California. Di Amerika ini saya berkesempatan mengunjungi Santa Monica (daerah pantai), Santa Barbara (daerah pelabuhan), Las Vegas (salah satu kota judi di Amerika), Grand Canyon (terkenal dengan batua-batuan dan sungai Colorado yang merupakan sumber air bagi seluruh masyarakat California), Hoover Dam (Dam yang berada di perbatasan Nevada dan Arizona), Solvang (toko-toko dengan bergaya arsitektur eropa, daerah ini banyak ditempati oleh orang asal Denmark Amerika), Hearst Castle (puri tempat tinggal tokoh terkemuka surat kabar Amerika William Randolph Hearst yang setelah meninggal dunia, tempat ini diserahkan oleh keluarganya kepada negara Amerika), San Fransisco yang terkenal dengan jembatan terpanjangnya “Golden Gate”, Yosemite National Park(salah satu hutan nasional di Amerika yang terletak di Sierra Nevada dengan luas 1200 mil2, terkenal dengan air terjunnya), Standford University (salah satu universitas terkenal di Amerika yang berlokasi di Palo Alto, California).

Hotel Case Delmar

santa monica 2

Lost in Vegas
Hal yang tak bisa terlupakan selama tour di Amerika, adalah saat saya terpisah dari rombongan tour di Las Vegas. Pada malam pertama di Las Vegas, saya dengan rombongan tour mengikuti tour malam (night sight seeing) di Las Vegas. Setelah melihat-lihat beberapa hotel mewah di sana, kami pun di-arahkan oleh tour guide untuk melihat pertunjukan api di depan hotel Mirage. Setelah menonton pertunjukan api tsb, saya dan 2 orang teman tour terpisah dari rombongan tour lainnya. Kemudian 2 orang teman saya dengan yakin mengatakan bahwa kita harus kembali ke tempat pertama kita mengikuti tour, tetapi sesampai disana kami tidak menemukan satu orang pun dari rombongan kami berada di sana. Akhirnya saya menelpon tour guide untuk menanyakan keberadaan mereka, dan tour guide memberitahukan kami untuk menyusulnya ke hotel lainnya. Kemudian kami pun pergi ke hotel yang disebutkan oleh tour guide. Kami menunggu sekitar 5 menit di depan hotel (Palazzo) tersebut tetapi tour guide dan rombongan lain tak kunjung tiba, akhirnya saya pun menelpon kembali tour guide dan karena bahasa Inggris tour guide adalah english chinese dan tidak jelas akhirnya telepon saya matikan dan saya pun mengirimkan sms untuk memberitahukan bahwa kami sudah di depan pintu gerbang ‘P’ hotel, tetapi tour guide membalas sms saya dengan menuliskan nama hotel lainnya. Ternyata hotel yang disebutkan oleh tour guide saat saya menelpon adalah hotel Bellagio bukan hotel Palazzo yang saya dengar. Saat membaca sms tersebut, kami pun panik karena kami tidak tahu sema sekali daerah Vegas dan tidak mengetahui dimana hotel Bellagio berada. Kemudian saya bertanya kepada orang disana untuk mengetahui lokasi hotel Bellagio. Setelah mendapat informasi, kami langsung menuju ke hotel yang dimaksud, saat itu waktu menunjukkan jam 20.50. Setelah berjalan sekitar 10 menit, kami tidak kunjung menemukan hotel yang dimaksud saya pun bertanya kembali kepada sepasang suami istri di jalan mengenai lokasi hotel Bellagio dan mereka menginformasikan arah yang sama dengan orang yang pertama. Kami pun melanjutkan perjalanan, saat itu waktu menunjukkan jam 21.00 dan tour guide mengirimkan sms kembali mengatakan bahwa mereka akan meninggalkan hotel Bellagio pada jam 21.10, padahal kami belum menemukan hotel Bellagio. Saya pun panik dan mengatakan kepada 2 orang teman saya untuk menggunakan taksi saja dan kembali ke hotel, tetapi salah seorang mengatakan kita bisa mencapainya tepat waktu, saat itu waktu menunjukkan jam 21.05. Kami pun akhirnya berjalan lebih cepat lagi layaknya seorang atlit atletik. Setelah menemukan nama hotel, tour guide kembali mengirimkan sms dan mengatakan bahwa akan segera meninggalkan hotel, saya pun langsung membalas sms dan mengatakan bahwa kami sudah di depan hotel Bellagio dan akan segera tiba di lobby dimana rombongan berada. Akhirnya tepat jam 21.10 kami pun tiba dan menemukan tour guide beserta rombongan.

las vegas

sunset santa barbara

Tour Canada
Setelah selesai tour selama +/- 10 hari di Amerika, saya melanjutkan tour dengan terbang ke Toronto, Canada. Saya pun tinggal di rumah kakak perempuan saya yang telah menetap di sana selama 11 tahun bersama keluarganya. Di Toronto, saya berkumpul bersama mama papa yang sudah lebih dulu berangkat pada bulan Mei 2011 dan kakak perempuan saya yang tinggal di Amerika yang juga sudah berangkat terlebih dulu seminggu sebelum kedatangan saya.

canada

Di Toronto, saya dan keluarga pergi ke Niagara Falls untuk ke-2 kalinya setelah pertama pergi di tahun 2004. Dalam perjalanan menuju Niagara Falls, kami mampir ke daerah Badlands, Cheltenham. Daerah ini dulunya adalah sungai besar, yang lama kelamaan mengalami pengikisan dan akhirnya sungai ini menjadi kering dan membentuk tanah-tanah liat/lempung yang mengeras menyerupai bukit-bukit.

Canada 1

Pada hari ke-empat setelah tiba di Toronto, saya pun pergi camping selama 3 hari 2 malam di Algonquin Park bersama 2 orang kakak perempuan, 1 orang kakak ipar dan orang tua saya. Suhu udara di Toronto cenderung lebih dingin dibanding dengan di California pada bulan yang sama. Suhu yang dicapai pada saat saya camping adalah 3 – 4 derajat Celcius. Walaupun namanya camping, tetapi kami tidak tidur di tenda, tetapi tidur di pondokan yang disebut “yurt” yang terbuat dari terpal tebal. Di dalamnya terdapat 2 buah ranjang susun dan heater (penghangat ruangan).

Canada 2

Di bagian luar yurt disediakan juga kompor gas untuk memasak. Area tempat kami camping sangat luas. Di sela-sela acara camping, kami juga melakukan kegiatan hiking, berkunjung ke museum dengan menggunakan mobil karena jaraknya yang cukup jauh dari area camping. Di museum tersebut terdapat kumpulan hewan-hewan yang telah mati dan dikeringkan sehingga tampak nyata, dan juga patung lilin suku asli Canada (Indian).

canada 3

Setelah 6 hari berada di Toronto, saya dan kakak perempuan saya yang tinggal di Amerika melanjutkan perjalanan dengan terbang ke Vancouver menggunakan pesawat West Jet untuk mengikuti tour selama 7 hari yang sudah diatur dari Jakarta.
Berbeda dengan suhu udara di Toronto, suhu udara di Vancouver lebih bersahabat. Suhu udara di Vancouver dalam kisaran 13 – 15 derajat celcius. Dengan mengikuti tour selama 7 hari, tempat-tempat yang kami kunjungi antara lain adalah:

a.Hari ke-1: Half-day city tour of Chinatown, downtown, Stanley Park, ferry ride to Granville Island

china town 2

china town1

b. Hari ke-2: Vancouver – Kelowna – Lake Okanagan – Winery – Salmon Arm

Kelowna 1

Kelowna 2

c. Hari ke-3: Salmon Arm – Emerald Lake – Banff – Canmore

salmon 1

salmon 2

d. Hari ke-4: Lake Louise – Jasper National Park – Icefield – Peyto Lake – Golden

colombia

moraine 1

Moraine

e. Hari ke-5: Golden – Kamloops – Ginseng Factory – Vancouver

spike 1

spike 2

f. Hari ke-6: Vancouver – B.C. Ferries – Victoria – Butchart Gardens

garden

Tour Hong Kong
Setelah +/- 13 hari berada di Canada, maka saya pun melanjutkan perjalanan, terbang dari Vancouver ke Hong Kong sebelum kembali ke Jakarta. Saya tiba di aiport internasional Hong Kong pada tgl 11 Oct 11 jam 07.20 waktu setempat. Di sana saya sudah ditunggu oleh kedua orang tua saya yang terbang dari Toronto untuk ikut dalam perjalanan kali ini.
Rencana semula untuk mengajak orang tua mengunjungi Macao kandas, disebabkan karena ombak yang terlalu tinggi sehingga terlalu beresiko membawa kedua orang tua untuk melakukan perjalanan ke Macao. Kami pun langsung menuju hotel di daerah Tsim Sha Tsui (yang kami pesan melalui agoda.com) untuk beristirahat sejenak melepas lelah setelah terbang +/- 12 – 13 jam.
Tidak banyak daerah wisata yang bisa kami kunjungi selama di Hong Kong, karena hujan turun terus selama 4 hari kami berada di Hong Kong sehingga kami baru bisa pergi jika hujan mulai reda. Daerah-daerah yang kami kunjungi selama di Hong Kong adalah:

a. The Peak
Hari pertama, kami menggunakan Peak Tram untuk menuju ke atas. Dari sana kita bisa melihat seluruh wilayah Hong Kong. Selain itu kami pun mengunjungi Museum Madame Tussaud yang berada di area Peak. Museum ini adalah museum patung lilin orang-orang terkenal di dunia, ada tokoh-tokoh negara terkemuka, artis-artis asia dan barat serta tokoh-tokoh musik/sastrawan/ilmuwan jaman dulu seperti WA Mozart, William Shakespeare, dan Einstein.

obama

hongkong

b. Giant Buddha
Hari ke-dua kami mengunjungi Ngong Ping 360. Dengan menggunakan cable car selama +/- 25 menit, kami pun sampai di sana. Ngong Ping terletak di pulau Lantau. Di lokasi ini terdapat patung Buddha terbesar “Giant Buddha”. Selain itu juga terdapat Ngong Ping Village yang menjual pernak-pernik (accessories), Kuil Buddha, tempat tinggal para bikhu/bikhuni, Vegetarian Restaurant dan Theatre untuk melhat perjalanan hidup Buddha Gautama.
Sebelum kembali ke hotel, kami pun menyempatkan diri berjalan malam di daerah Tsim Sha Tsui dimana kami menginap untuk menikmati suasana malam di Hong Kong

Budha 1

Budha

c. Dimsum dan berbelanja di Ladies market, Mongkok
Hari ke-tiga, kami diundang makan oleh teman kakak yang tinggal di Hong Kong untuk menikmati makan pagi dengan dimsum di daerah Kowloon Bay. Setelah itu, kami pun melanjutkan perjalanan dengan ditemani oleh teman kakak menggunakan MTR ke daeraha Mongkok, Ladies Market. Tempat ini sangat terkenal dengan daerah pedagand kaki lima seperti yang bisa kita temui di daerah Tanah Abang/Pasar Baru di Jakarta. Di sini menjual barang-barang tiruan dari merk-merk terkenal: dari tas mewah, baju sampai dengan travel bag dan jam-jam tangan.
Di hari ke-tiga ini, kami pun pindah ke L’ Hotel Nina et Convention Centre, dekat daerah bandara internasional agar keesokan harinya saat kami ke bandara untuk kembali ke Jakarta tidak perlu berangkat terlalu pagi (penerbangan jam 09.20 waktu setempat).

Hotel Nina

Setelah 4 hari di Hong Kong, saya pun akhirnya mengakhiri perjalanan wisata saya selama 1 bulan penuh dan mulai bersiap-siap untuk menghadapi aktifitas rutin seperti biasanya.
(Sanny Tjandradjaja)

Dec201405

Sejak dini, benih-benih “curiosity” tentang Papua sudah tertanam di dalam benak saya.
Seringkali, ditengah membaca majalah National Geographic, pandangan saya terpaku pada sebuah foto orang Papua yang membangkitkan pertanyaan…. “Seperti apa ya kehidupan teman-teman kita di bagian timur negara ini?”. Akhirnya pada bulan November tahun lalu, saya bersama suami saya, Tom, mendapatkan kesempatan berjalan kaki melalui daerah dataran tinggi di Kabupaten Intan Jaya, daerah suku Moni, yang terletak di bagian tengah pulau Papua.

Kesempatan ini hanya dimungkinkan karena bantuan Pendeta John Cutts, seorang Misionaris asal Amerika yang mengikuti jejak orang tuanya untuk tinggal di Papua, khususnya di daerah suku Moni dan melayani kebutuhan masyarakat setempat. Beliau yang bekerja sama dengan para Kepala Kelassis dari setiap desa yang kami singgahi supaya dapat menerima kami dengan baik.

IMG_2737 IMG_2558

Perjalanan diantara awan-awan…
Perjalanan kami dimulai dengan pesawat dari Jakarta ke Timika, kota yang dibangun oleh PT. Freeport Indonesia. Setelah bermalam di Timika, keesokan harinya kami menuju desa Bugalaga menggunakan pesawat Cessna Caravan 208-B yang berkapasitas maksimum delapan orang. Pemandangan dari pesawat kecil ini sungguh menakjubkan… di kiri-kanan pesawat terdapat awan-awan yang cukup tebal. Lalu, tiba-tiba dari balik awan terlihat puncak pegunungan yang begitu megah ditutupi bercak-bercak es dan dikelilingi oleh kabut. Saya seakan-akan berada di film Indiana Jones!

Setelah menikmati pemandangan dari pesawat yang begitu mengesankan selama setengah jam, disela-sela awan saya melihat landing strip desa Bugalaga. Landing strip ini dibangun di sisi bukit sehingga terletak pada kemiringan kurang lebih 45 derajat. Selain unik, hal ini sempat membuat hati saya deg-degan saat pesawat sedang touch down dengan posisi ekor mengarah kebawah dan kepala mengarah keatas.

Untungnya ada porter
Kedatangan kami disambut dengan hangat oleh warga Bugalaga. Anak-anak membentuk lingkaran di sekitar kami, sambil para tetua menghampiri kami untuk berjabat tangan. Selesai dengan ramah-tamah, saya dan Tom segera mencari ketiga porter yang dipesan Pendeta Cutts untuk mengangkut bawaan kami yang terdiri dari dua backpack dengan berat 15 kg dan 23 kg, beras 15kg, dan supermi 10 kg. Tanpa adanya porter, saya tidak mungkin dapat menyelesaikan perjalanan kaki selama empat hari dari Bugalaga menuju Pagamba.

IMG_0283

“Naik…. turun…. naik… turun…. na…ik…. tu…run”
Dari desa Bugalaga, rombongan kami berjalan kaki selama kurang lebih enam jam menuju desa Pagamba. Perjalanan hari pertama merupakan perjalanan yang paling sulit. Dimulai dengan jalan menurun yang terjal di sisi bukit, kami menuju lembah sungai, menyeberangi sungai dan menaiki lembah sungai menuju bukit berikutnya. Setelah melakukannya tiga kali, rasa lelah sudah mulai merajai badan saya… jarak yang biasa dapat saya tempuh dalam waktu pendek memakan waktu berjam-jam karena ketinggian yang sangat bervariasi. Keadaan fisik saya sunggguh berbeda dengan para porter. Meskipun membawa backpack yang berat, mereka sudah jalan mendahului ke atas bukit dan bahkan sempat beristirahat di bawah pohon yang teduh sambil menunggu saya dan Tom yang ngos-ngosan mencapai puncak. Bagi mereka, perjalanan naik-turun sisi gunung seperti ini sudah biasa. Rasa lelah saya pun dikalahkan dengan rasa malu terhadap para porter…

IMG_2504

“Romantic dinner” di dalam honai
Pada malam hari, kami makan bersama di dalam honai, bangunan bundar terbuat dari kayu dan beratap kulit kayu. Warga satu desa duduk membentuk lingkaran di sekitar perapian di tengah honai sambil menunggu masakan matang. Karena listrik belum masuk di Bugalaga dan desa-desa kecil lainnya, satu-satunya sumber cahaya di malam hari adalah senter atau api. Alhasil, saya merasa seperti sedang makan malam romantis dengan Tom, dengan cahaya perapian yang halus, melihat sinar bulan dari pintu honai…sayangnya, makanannya Supermi…

Setelah menikmati makan malam, kami dengan senang menyambut sleeping bag yang telah kami gelar di lantai kayu kamar tamu. Hari pertama perjalanan kami cukup melelahkan..

Negeri di awang-awang
Perjalanan pada hari kedua tidak begitu terasa, mungkin karena kaki kami sudah mulai terbiasa dengan naik-turun jalanan setempat. Cantiknya pemandangan yang selalu berganti turut membantu menghilangkan rasa lelah. Di suatu saat kami melewati jalan setapak di tengah hutan yang diapit oleh pohon-pohon Cemara dan semak-semak merah. Di saat lain awan-awan menutupi lembah dan Matahari mulai menampakkan dirinya dari balik bukit. Sinar mentari yang terpantul dari awan menjadi seperti lukisan indah. Sungguh mengesankan Papua ini… bagaikan negeri di atas awan.

Bakar Batu… “Roast”-nya orang Papua
Sewaktu kami mengunjungi Kabupaten Intan Jaya, warga setempat sedang dilanda musim kelaparan karena musim hujan yang tak henti selama lima bulan. Umbi-umbian yang menjadi makanan pokok mereka sehari-hari habis akibat hujan. Harga umbi kecil sempat naik tiga kali lipat. Walaupun demikian, tuan rumah kami di Desa Mbugulog, Bapak Kelassis Jan Tipagalo dan istrinya, Mama Jemima, tetap mengadakan acara “Bakar Batu” bagi kami. Kemurahan hati warga setempat benar-benar tidak mengenal batas. Mereka menyembelih satu dari tiga babi yang mereka miliki untuk dipanggang di dalam “oven” bawah tanah yang alami. Oven ini terbuat dari lubang yang digali di dalam tanah lalu diisi dengan kayu dan dedaunan yang dibakar dan ditimbun dengan bebatuan diatasnya hingga panas. Di atas batu-batu panas diletakkan daging serta sayur-sayuran, lalu ditimbun lagi dengan tanah dan bebatuan supaya temperatur di dalam semakin panas. Efeknya… “oven alami”. Daging yang dimasak mirip dengan “Roast Pork” yang biasa dihidangkan oleh tuan rumah di Australia.

IMG_2679

Kerja keras tanpa kenal lelah
Satu hal yang mengejutkan kami adalah stamina orang Papua. Tenaga mereka boleh dibilang beberapa kali lipat dari tenaga body builder. Dari anak muda hingga orang tua bahkan yang sudah lanjut usia, mereka betul-betul bekerja keras menguras keringat. Di pagi hari sebelum Matahari terbit mereka sudah bangun bersiap-siap untuk sekolah, mengurus kebun, pergi berburu atau mengurus gereja.
Selesai sekolah anak-anak kecil langsung dikirim masuk ke hutan mencari kayu bakar. Saat tampungan air hujan desa habis, anak-anak cilik berusia tidak lebih dari tujuh tahun berjalan ke mata air terdekat dan kembali menggotong jerry can yang diisi penuh dengan air kembali ke desa. Berapa jauh? “Dekat, hanya satu kilometer saja…” jawab orang tuanya.
Tidak jarang saya berpapasan dengan bapak-bapak tua yang sedang menggotong kayu Cemara di atas bahu sendiri untuk membangun rumah atau pagar kebun. Dengan beban seperti itu mereka melompat dengan lihai dari batu ke batu sementara saya yang tidak membawa apapun harus berhati-hati mengambil setiap langkah.
Dari semuanya, yang paling mengesankan adalah kaum wanita. Dengan menggunakan kantung noken yang digantung pada dahi, mereka bisa menggendong bayi, umbi-umbian, nasi dan kayu bakar sampai lebih dari 20 Kg. Seringkali dalam perjalanan mereka diminta mengangkut beban yang lebih berat daripada kaum pria untuk bayaran lebih sedikit.

Keramahan dari lubuk hati, ketabahan melewati hidup
Kesan yang paling menempel dari perkenalan singkat saya di Kabupaten Intan Jaya, adalah kemurahan hati warga setempat ditengah hidup mereka yang begitu sulit. Meskipun dilanda kelaparan karena hujan yang tak kunjung henti, kesedihan melihat anak dan orang tua mereka yang sakit tanpa adanya obat untuk menyembuhkan, keletihan dari kerja keras setiap hari, tetap saja mereka meluangkan waktu untuk menyambut kami ke dalam rumah mereka. Perjalanan pendek saya bersama orang-orang Moni di Intan Jaya akan selalu terkenang.

previous1234nextPage 2 of 4